Friday, February 5, 2016

Malu Bertanya, Sesat di Jalan


"Malu bertanya, sesat di jalan" merupakan peribahasa yang pastinya sudah sering kita dengar sejak di bangku Sekolah Dasar. Peribahasa ini mengajarkan kita agar aktif bertanya jika menghadapi kesulitan dalam bentuk apapun. Kita pasti sangat hafal di luar kepala apa arti dan maksud dari peribahasa tersebut. Namun, kenyataannya praktek tidak semudah teori. Perasaan malu bisa jadi merupakan momok yang sangat menakutkan bagi sebagian orang, meski untuk sekedar bertanya. Karena itulah, Bank Negara Indonesia (BNI) membuka kompetisi blog yang bertema "Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan" untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi merasa malu dan ragu dalam bertanya tentang apapun, kapanpun dan dimanapun. BNI juga telah menyediakan fitur di TWITTER @BNI46 dengan hashtag #AskBNI yang memungkinkan kita mendapatkan informasi lengkap yang kita inginkan.

Malu bertanya pernah terjadi pada saya beberapa tahun silam. Saat itu, saya mendapat undangan pesta ulang tahun teman saya yang alamatnya terdengar asing di telinga. Lebih tepatnya asing bagi telinga saya yang notabene tidak pernah pergi kemana-mana selain pergi ke sekolah atau tempat-tempat di sekitar rumah. Bagi saya jarak itu terlalu jauh karena saya membutuhkan waktu 1,5 jam untuk sampai disana menggunakan motor. Jalan yang saya tempuh ke rumah teman saya itu adalah dari tempat sekolah seperti yang terdapat pada peta dibelakang undangan dimana saya harus menempuh 30 menit untuk sampai ke tempat sekolah terlebih dahulu.

Pesta ulang tahun usai hampir sekitar pukul 5 sore. Saya pun bergegas pulang agar tidak keduluan malam. Awalnya perjalanan terasa mulus hingga pada akhirnya jalan kampung yang sudah dekat dengan rumah saya ditutup karena ada sebuah acara pernikahan. Sontak saya kebingungan bukan main. Saya tidak tahu jalan lain lagi selain yang saya lewati seperti biasanya. Ditambah lagi, bulan sudah menunjukkan senyumnya. Ya, kira-kira pukul 06.30 waktu itu. Saya mengambil jalan tikus yang tersedia di kampung itu. Ah, namanya juga jalan tikus, terlalu rumit. Parahnya, acara pernikahan lain menutup jalan tikus yang saya ambil.Sangat membingungkan. Tidak ada motor lain yang bisa saya ikuti. Jalanan kampung itu begitu sepi, hanya ada beberapa warga yang duduk di teras depan rumah masing-masing. Namun tetap, saya tidak juga bertanya. 

Entah sampai dimana saya. Selama satu jam berputar-putar di kampung yang tak juga saya temukan titik terang jalan ke rumah. Hingga tangisan saya pecah ketika saya sampai di jalan buntu yang sangat menyeramkan. Saya bergegas putar balik dan lagi, berputar-putar terus di kampung sampai pada akhirnya memutuskan untuk kembali saja ke jalan besar yang sudah familiar bagi saya. Meski jauh, setidaknya saya tidak akan tersesat. Dan sampailah di rumah saya pada pukul 21.00. Saya membutuhkan waktu 4 jam untuk sampai di rumah hanya karena tidak mau bertanya. Padahal jarak tempat dimana saya tersesat dengan rumah hanya sekitar 2 km yang bisa ditempuh dalam waktu 5-10 menit saja.

Betapa ruginya jika kita mendahulukan rasa malu di atas segalanya. Andai saya mau bertanya, saya tidak akan tesesat di jalan. Berikut keuntungan yang bisa saya dapat jika saya mau bertanya saat itu:
  1. Saya bisa sampai di rumah 2 jam lebih awal
  2. Saya bisa mengirit pengeluaran bensin
  3. Saya bisa menemukan jalan baru yang lebih dekat
  4. Saya tidak akan setres dan menangis karena berputar-putar kebingungan dan menemukan jalan buntu.
Keesokan harinya, teman saya memberi tahu bahwa sebenarnya jarak rumah kami bisa ditempuh dalam waktu 30 menit saja. Kenapa saya harus membutuhkan 1,5 jam? Karena saya telah memutari kota. Lagi-lagi, karena enggan bertanya saya telah merugikan diri saya sendiri.

Peribahasa bukan hanya sekedar peribahasa. Peribahasa ada sebagai acuan kita dalam menjalani hidup. Semoga pengalaman di atas dapat benar-benar menyadarkan kita tentang pentingnya bertanya dan benar-benar mengamalkan pelajaran dari peribahasa "Malu bertanya, sesat di jalan".

Friday, January 15, 2016

Sepatu Flanel Baby Boy


Dear, Mommies!

Kali ini, aku coba ngeshare tutorial membuat sepatu flanel buat baby. Don't worry! Alat dan bahannya gampang banget didapat. Cara buatnya juga mudah, karena 100% handmade. Yang penting telaten ya mommies... :)

Firstly, Siapkan alat dan bahan seperti gambar di bawah ini.

Alat dan Bahan


Secondly, Buatlah pola sepatu dari kertas  terlebih dahulu, kemudian aplikasikan pada kain flanel as the picture below.

Pola pada kertas
Pola pada kain flanel   

Gabungkan masing-masing pola yang sama. Putih untuk bagian dalam sepatu, biru bagian luar sepatu. Kemudian, jahitlah gabungan kedua pola (alas dan keliling sepatu).
Gabungan pola alas sepatu


Gabungan pola keliling sepatu
Jahitlah pola alas dan keliling sepatu
Setelah dijahit secara keseluruhan akan dihasilkan gambar seperti di bawah ini.


Gimana, mommies? Sudah jadi sepatu kan? Nah..biar lebih cute, tambahkan accesories mata dan kumis dari kain flanel, dengan cara dilem pake lem tembak. Here it is the result. Tarrrraaaaa.....

Sepatu flanel baby handmade
Mudah, bukan? Silahkan dipraktekkan. Biar babynya makin sayang sama mommy nya. Heheheh...salam berkreasi!


Wednesday, January 13, 2016

Buto Beristri Cantik

By : Yesi Sehiling

Namaku Buto. Sungguh nama yang nggak ada bagus-bagusnya menurutku. Tapi kenyataannya itu adalah pemberian dari orang tuaku. Aku enggak tahu mengapa mereka tega memberiku nama seperti nama hantu penunggu pohon gayam yang dalam penampakannya berbadan tinggi besar, hitam, dan jelek. Sepertinya mereka sadar bahwa penampakanku juga nggak ada ganteng-gantengnya. Bedanya, aku nggak setinggi Buto. Badanku pendek tidak lebih dari 145 cm di usiaku yang sudah tergolong remaja.

Sejak kecil aku sudah menjadi bulan-bulanan. Dari rambut yang keriting, kulit yang hitam, hidung pesek, gigi tongos, bibir lebar dan besar, semuanya lengkap! Menjadikanku bulan-bulanan bagaikan sebuah permainan asyik bagi kebanyakan orang. Hingga sampai saat inipun meski sudah mendapatkan istri yang cantiknya bukan main, tetep saja mereka masih sering mengata-ngataiku. Tapi kali ini agak beda. Dulu mereka hanya bisa mengatakan kejelekan tubuhku, sekarang mereka bisa lebih kreatif, "Hebat ya Buto! Meski wajahnya hancur tapi istrinya cantik luar biasa." Iya, kali ini mereka tak hanya mengatai tapi juga memujiku. Sungguh pujian yang terkadang terasa makjleb nyerinya di dada.

Istriku adalah teman satu SMA ku. Namanya Jihan. Dia bisa dikatakan cewek paling cantik di Sekolah. Tubuhnya tinggi semampai, berkulit putih, berambut panjang, berwajah imut, ah....sungguh bagaikan bidadari langit yang jatuh ke bumi. Deretan cowok mengantri untuk bisa menduduki jabatan sebagai kekasihnya. Termasuk aku. Meski tak sedikitpun dia melirikku. Menerima nasib beruntung seperti itu, sudah barang tentu ada rasa sombong dalam diri Jihan. Kriteria cowok idaman pun harus ganteng sekelas Aliando, smart, kaya, dan pastinya juga nggak kalah ngehitz dari dia. Sedangkan aku? Nggak ganteng, nggak kaya, dan nggak smart. Ya Tuhan...nasibku gini amat ya.

Kisah kami berawal ketika ada acara camping sekolah di Hutan Trawas. Saat itu cuaca ternyata tidak begitu bagus. Bayangkan saja, dalam kegiatan penjelajahan, hujan dengan kejamnya mengguyur kita. Jalan yang kita lalui menjadi becek dan licin. Kita harus sangat hati-hati saat melintas jika nggak mau merelakan tubuh kita jatuh ke dalam jurang yang lumayan dalam. Tapi aku tetap senang-senang saja karena ternyata bisa satu team sama Jihan. Asyik! Mataku bisa terus memperhatikannya meski terasa sakit juga. Nyatanya, cowoknya juga satu team sama kita. Melihat mereka bergandengan sepanjang jalan membuat hati ini terasa panas. Tapi apalah hak ku? Aku bukan siapa-siapa, bahkan pembantunya juga bukan. Padahal aku rela loh..jadi pembantunya atau barangkali jadi sopirnya. Wah..Aku terlalu lancang jatuh cinta padanya.

Tiba-tiba tangan Jihan terlepas dari genggaman cowoknya dan terpeleset. Tubuhnya bergelantungan memegang akar pohon. Dia menangis, menjerit, meminta tolong, tapi kurang ajarnya si cowoknya itu hanya bisa terbengong dan teriak-teriak juga. Memang terlalu beresiko menolong Jihan saat itu. Bukannya Jihan tertolong, bisa-bisa jatuh kedua-duanya ke dalam jurang. Jeritan Jihan semakin menjadi, berharap ada dari kami yang mau menarik tangannya. Tapi tak satupun yang berani. Hingga Jihan berkata," Siapapun dari kalian yang menolongku, akan aku nikahi! Sumpah!" Tawaran yang sangat menggiurkan bagi kami kaum laki-laki. Tapi tetap saja, nyawa kami hanya satu. Dengan membaca bismillah, aku memberanikan diri memegang tangannya yang sudah hampir terlepas dari akar pohon dengan tangan kananku. Sedangkan tangan kiriku memegang tongkat yang sudah aku tancapkan dalam-dalam di dalam tanah. Dengan sekuat tenaga dan tetap dalam kewaspadaan, perlahan aku menariknya. Teman-teman tadinya yang hanya bisa terbengong akhirnya ikut membantu dengan cara beberapa memegangi badanku dan beberapa membantu menarik tangan Jihan. Sampai di atas kami semua jatuh tersungkur di tanah, kecuali Jihan. Dia terjatuh tepat di tubuhku. Kalian tahu rasanya seperti apa? Jantungku serasa berhenti berdetak. Tuhan...Tolong pause adegan ini, please... Begitu gumam hatiku saat itu.

***
Seperti biasa, setiap pagi istriku selalu menyediakan kopi dan menemaniku duduk bersantai sejenak sebelum kembali ke aktifitas yang membosankan. 
"Sayang, aku jadi ingat dulu waktu kita camping SMA. Saat aku mencari kayu bakar, aku bertemu seorang nenek-nenek. Dia bilang aku harus selalu hati-hati. Jangan sampai aku menginjak kodok kalau tidak mau mendapatkan istri yang jelek. Percaya nggak percaya aku tetap waspada. Karena aku nggak bisa ngebayangin wajah anakku jika memiliki bapak sejelek aku dan harus ditambahi dengan ibu yang juga jelek. Syukurnya tak seekor kodokpun aku injak. Makanya, istriku bisa secantik bidadari seperti kamu."
istriku mengangguk-anggukan kepala.
"Oh...pantesan. Waktu itu aku nginjak kodok dua kali!!"
Seketika dia menjerit.

Monday, January 11, 2016

KAMAR

YUUUHUUUUU......hatiku benar-benar lagi berbunga-bunga. sueneng buanget rasanya. gembira ria! hahahah... Bukan karena aku habis dapet undian, ataupun emas batangan dari orang yang tak dikenal, tapi karna satu hal simple, aku pindah kamar! yes! aku pindah kamar!
Aishh, pindah kamar aja jingkraknya kayak gitu. Mungkin itu yang ada dibenak kalian. Tapi tidak bagiku. Sebelumnya aku dan suami tidur di kamar depan. Enak sih sebenarnya. Kalau ada teman main, pasti kita langsung denger dan tahu. Ruangannya juga kedap suara. Jadi suara dari dalam dan luar kamar tidak saling bertukar. Enaknya kan pas ehem gitu nggak ada yang denger. wkwkwkwk

Cuman, kamar depan itu puanasnya masa ampun! Lah wong langsung terpapar sinar matahari. Meski matahari udah pergi berganti bulan, tetep aja panasnya nggak hilang karena sisa panas matahari yang menempel dinding dan berputar-putar di dalam ruangan. Moreover, dalam keadaan hamil begini, suhu tubuh makin meningkat. Rasanya udah kayak di neraka! Padahal ya aku belum tahu neraka juga sih, dan berharap nggak pernah tahu. hehe... Halah! kan bisa pakai kipas angin. Helowwww...nggak sesimple itu!

Orang hamil pastinya daya tahan tubuhnya nggak seperti orang normal. Guampang banget berkeringat kepananasan dan guampang banget masuk angin. Nah terus gimana coba? nggak pakai kipas angin itu ya kepanasan, pakai itu ya masuk angin. Hadeeehhh.. Bisa bayangin nggak gimana tersiksanya nggak bisa tidur karena tubuh pasti basah kuyup dan berasa geeerraaaaahhhhhh banget, Tapi pakai kipas badan serasa sakit karena masuk angin dan panasnya tuetep kerasa cuman nggak ada basah, gitu ajah. Rasanya tuh puingin marah-marah mulu. Nggak cuman itu, aku tuh orangnya nggak bisa tidur di tempat terbuka dan nggak bisa tidur di tempat yang terang. Lah si suami ini orangnya suka banget ngeblak pintu dan jendela dan nggak bisa hidup di tempat gelap, dia sukanya serba teraaangggg. hiks! Jadi makin sering marah kan. Tapi mungkin itu sebabnya, aku dapet suami gelap, dia dapet istri terang.Wakakkakaka

Syukurnya, kamar yang sekarang yang ada di belakang itu adeeeeemmmmm....wiiiiihhh sueneng banget! Tidur bisa nyenyak senyenyak-nyenyaknya sampai-sampai lupa sampai-sampai bangunnya selalu terlambat. hahahah... tambahan lagi, kamar disini suasananya gelap loh. Nggak kena matahari langsung dan angin dari jendela itu loh..semiiliiiiirrrrr gitu. AW bahagia banget! hahahaha...meski jendela dibuka terus sama suami, NO WORRY! Ahay...Hidup sejahtera ini mah rasanya. Gimanapun juga, ada positif pasti ada negatif lah ya... kamar yang sekarang itu udah kayak penyaring suara aja. suara dari luar kedengaran jelas dan keras, suara dari dalam kamar keluar kamar pun juga kedengaran. Waduh...harus sering-sering melanin suara nih apalagi pas ehem! Kalau tetangga dengar kan nggak lucu. hihihihi

Yaudah deh segitu aja cerita seputar kamar. Mamacih dah mau baca. Selamat malam dan selamat tidur ^_^ (ditulis tepat pada pukul 21:24 WIB)

Kreasi Sendal dengan Kain Flanel

Enggak tahu lagi apes atau lagi beruntung waktu ngedapetin sendal yang baru aku beli satu hari ternyata rusak saat pertama kali pakai. Bisa jadi apes karena harga sendal itu juga nggak murah-murah amat. Bisa juga beruntung, karena dengan begitu Tuhan ngasih aku kesempatan untuk berkreasi. Aku emang suka banget berkreasi. Bagiku, ada kepuasan tersendiri dalam berkreasi, yah meskipun kadang-kadang puegelnya di punggung itu masa ampun karena segalanya serba handmade. Padahal kalaupun mau benerin ke orang lain atau beli lagi yang baru, nggak perlu capek-capek kan ya. ahahahaha... Tapi aku type orang yang sayang kalau ngebuang barang. hihihihi bukan pelit loh ya...
sendal yang putus


Yuk mulai berkreasi! 
Pertama, siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan:
  • Silet, gunting, lem tembak, 2 buah peniti bross, benang dan jarum.
  • Kain flanel. Disini saya pakai flanel merah karena stock hitamnya nggak cukup jika tetep dipakai. padahal sebenernya mau pakai hitam biar sama kayak sendal aslinya. :D
    Alat dan bahan
Step 1:
Buang bagian depan sendal yang putus dengan menggunakan silet.

Step 2:
Buatlah empat buah pola dari kain flanel merah berdasarkan pola bagian depan yang sudah kita ambil.



Step 3:
Gabungkan 2 pola flanel, lalu jahit. Ini bertujuan agar pola semakin kuat.



Step 4:
Tempel pola yang sudah dijahit pada sendal, hingga hasilnya seperti bawah ini. teman-teman bisa pakai paku payung atau lem. Saya sih pakai paku biar nggak gampang lepas.


Step 5:
Sebenernya tahap atas sudah bisa dipakai ya sendalnya. Tapi tambahin accesories biar lebih imut. 
Buatlah pita dari kain flanel hitam.
  • lipatlah kedua sisi flanel, lalu jahit.
  • Tekuk bagian tengah flanel, sebelumnya posisikan jahitan pada bagian tengah.


  • Balut lipatan dengan flanel hitam kira-kira berukuran 4cm x 1 cm. Jangan lupa di lem.

  • Pasangkan peniti bross. Sebenarnya pita bisa langsung di lem kan saja pada sendal, namun saya pakai peniti biar bisa dibongkar pasang accesoriesnya.


Finish!
Dan, inilah hasilnya.

Gimana? Mudah bukan? Udah bisa dipakai hangout lagi deh sendalnya. :)
Untuk mendapatkan steps yang lebih sederhana bisa  diambil disini.
Semoga bermanfaat ya....terimakasih sudah membaca. Salam berkreasi!