Kalau kalian notice postinganku sebelumnya tentang kejadian konyol saat naik bus, itu berarti kalian sedang membaca cerita kekonyolan yang ke-dua. Bedanya, kali ini saat naik kereta! Eiittss gak perlu mendelik gitu matanya.
Kisah ini berawal dari niat aku untuk meminimalisir capek karena naik bus. Maka keluarlah ide brillianku untuk naik kereta dari Stasiun Kertosono menuju Krian, tepatnya kereta Panataran. Ini adalah kali ke-4. Secara pengalaman pastinya sudah Pro to the Max dong???!!!
Singkat cerita, aku masuk melalui boarding pass. Biasanya, si petugas infoin keretaku di jalur 1. Tapi saat itu, petugasnya hanya diam saja. Mungkin lagi galau atau bisa jadi sakit gigi. Hiks, get well yaa, Kak! Dengan berbekal pengalaman yang sudah-sudah, tanpa babibu, aku langsung naik kereta di jalur satu tentunya. Agak bertanya-tanya ketika pukul 20.46, keretaku tak kunjung berangkat. Masak iya sengaret ini? Aku masih positive thingking karena ini merupakan kereta terakhir. Mungkin penggantian gerbongnya masih belum siap atau apalah. Hingga akhirnya pukul 20.53 kereta yang kunaiki melaju.
Badanku terasa lelah teramat sangat. Pulang kerja, gendong bayi. naik bus selama satu jam lebih dengan sopir bus yang tidak ramah dalam mengendarai, oper naik gojek sebelum akhirnya tiba di stasiun Kertosono. Tanpa sadar, aku tertidur dan terbangun di sebuah stasiun yang aneh namanya. Maklum, aku memang tidak seberapa paham nama-nama daerah. Keretaku berhenti cukup lama. Hening. Aku tengok jam tangan, sudah pukul 22.03. Mestinya sebentar lagi aku sampai Krian. Tapi seingatku, tidak pernah berhenti selama ini untuk menuju Krian.
Inisiatiflah aku bertanya ke penumpang sebelah. "Mas, barusan stasiun mana ya?" Tanyaku. "Stasiun xxxxxxxxxxx, Mbak." Sahut mas-mas itu hingga berhasil membuat jantungku berhenti berdetak sejenak. "Loh Mas, udah lewat stasiun Mojokerto kah?" tanyaku panik. Mas-mas itu pun mengernyitkan dahi, "Kok Mojokerto, Mbak? Ini kan kereta tujuan Blitar."
Sumpah! Aku gak bisa lagi gambarin dengan jelas paniknya aku. Belum pernah sekalipun aku ke daerah ini. Sudah terlalu larut untuk perempuan bawa bayi. Aku langsung tenteng tas, dan gendong anakku yang masih tertidur, kucari petugas kereta. kusampaikan keluh kesah. Jujur, harapanku mereka bisa kasih solusi aku tidur di kereta seenggaknya sampai subuh, karena jadwal kereta selanjutnya sekitar pukul 4, tapi ternyata mereka tidak punya solusi selain menyarankan cari penginapan yang di dekat stasiun berikutnya.
Alamak pusing sepusing-pusingnya. Aku mau nangis. Masalahnya aku sama bayiiiikkkk dan sama sekali tidak tahu daerah apa ini, bagaimana menuju ke sana, dan sudah malam sekali. Lalu aku tanya, setelah ini stasiun apa saja? nama familiar yang mereka sebutkan adalah Tulungagung dan Blitar. Tetiba aku ingat punya rekan kerja yang rumahnya Tulungagung. Aku telpon dia, ceritakan ini itu, dan dia bilang dia bisa jemput aku di stasiun lalu dibawa ke rumahnya. Kepalaku berasa disiram es. Hatiku lega, dan memutuskan turun di Tulungagung.
Setelah turun di stasiun Tulungagung, aku berniat ngabarin temenku kalau aku sudah menunggu dia datang, tapi ternyata dia minta aku ngegrab saja sampai ke rumahnya, barulah keesokan harinya akan diantar ke stasiun kembali. Syedih! Ngelag! Badanku berasa capeeekkkk sekali. Akhirnya aku inisiatif (banyak sekali inisiatifnya hahahah) untuk bertanya ke petugas stasiun Tulungagung, apa aku boleh nunggu di sini sampai kereta selanjutnya? They said boleh, nunggunya di ruang tunggu, kursi duduk. Huhuhuhu!
"Apa ada ruang laktasi, Mas? Barangkali boleh sy tidur di ruang laktasi, karena sy menyusui si bayi juga." Pintaku memelas.
Dengan melalui diskusi tim, akhirnya mereka mengizinkan aku tidur di ruang laktasi. MasyaAllah TabarakAllah rasanya aku pingin nangis saat itu juga saking terharunya.
Masalah tidak selesai disitu. Aku gak bisa tidur. Jantungku berdebar. Hatiku marah tapi tidak tahu mau dan harus marah ke siapa dengan kondisi ini. Lalu, Jam 2 pagi, anakku bangun. Puuuupppppppppppppppp!!! Ya Allah Yaa Raab... mana ga bawa pempers. Aku tolah toleh juga ga ada pempers. Dilepas nanti gimana kalau anakku pipis-pipis. Mau teriaaakkk tapi aku do'a aja dan meluk bayiku, bismillah ndak apa-apa ya Nak tunggu sampai langitnya terang. Alhamdulillah setelah pup kok dia langsung tidur lagi. Ada rasa khawatir dia tidur dengan pempers kotor. Tapi ada rasa percaya ke Allah, everything is going to be okay!!
***
Suara kereta datang membukakan mataku. Terdengar pula suara-suara manusia lalu lalang. Aku lihat jam, ternyata sudah subuh. Anakku masih tertidur. Kucoba keluar. Diantara sekian banyak petugas yeng bersimpati, ada satu petugas dengan mata beloloknya menyuruhku keluar dari area situ, karena ruang laktasi dibuat kerja dan keretaku masih lama katanya. FYI, aku dapat kereta pukul 6.30 kalau aku gak salah ingat. Melaassss banget rasanya. Bayiku masih tidur loh, aku sudah punya tiket juga, bisa-bisanya dia menyuruhku pergi dengan wajah yang mengiris hati. please! kasih aku tisu!
Saat kugendong, anakku langsung terbangun. Saat itu kondisi gerimis. Yasudah, Alhamdulillah dipersilahkan disitu, dan sudah subuh. Aku keluar area stasiun, cari pempers di bawah gerimis yang menari-nari. Ini kalau adegan film, cocok banget dikasih backsound Kabhi KUshi Kabhi Gem -_-" Alhamdulillah ada warung madura di dekat stasiun. Terimakasih yaa warung Madura, sungguh ide yang sangat bermanfaat buka warung selama 24 jam :) dengan segala dramanya, akhirnya keretaku tiba!
Kereta ini balik lagi ke kertosono dan istirahat selama 30 menit. Saat istirahat itu aku datangin petugas di stasiun Kertosono , kuceritakan kisah sembari complain kenapa tiba-tiba kereta yang seharusnya di jalur 1 menuju Krian, diganti tujuan Blitar? Ternyata oh ternyata,,, saat itu kereta dari Malang telat. Sehingga kereta yang ada di jalur 4 yang mestinya tujuan Blitar, dijalankan dulu dan diganti arah menuju Krian. Dengan kesimpulan, kereta panataran biasanya di jalur 1, malam itu ditukar dengan kereta di jalur 4. FYI, kereta di jalur 1 dan 4 adalah jenis kereta yang sama yaitu Panataran, hanya saja beda nomor. Si petugas menyarankan, setiap kali naik kereta dari kertosono HARUS TANYAKAN keretanya di jalur mana. SETIAP KALI!!!!
Kalau kalian tanya kenapa ga dengerin CORONG INFO, heyyyy kondisi di stasiun Kertosono itu rame sekaliii. Adapun suara keluar dari corong itu, terdengar tidak jelas. Apalagi aku harus gendong gendong bayi, oper-oper tentu saja fokusku berkurang, daaann bagiku agak lucu kalau setiap naik harus nanya jalur padahal jadwal dan jenis kereta yang aku naikin selalu sama. hem tapi yasudahlah.. ini pengalaman berharga buatku dan tidak ingin kuulangi seumur hidupku. -_-









