Friday, December 5, 2025

Sebuah Pengalaman Menyedihkan Ketika Naik Kereta Panataran

Kalau kalian notice postinganku sebelumnya tentang kejadian konyol saat naik bus, itu berarti kalian sedang membaca cerita kekonyolan yang ke-dua. Bedanya, kali ini saat naik kereta! Eiittss gak perlu mendelik gitu matanya.

Kisah ini berawal dari niat aku untuk meminimalisir capek karena naik bus. Maka keluarlah ide brillianku untuk naik kereta dari Stasiun Kertosono menuju Krian, tepatnya kereta Panataran. Ini adalah kali ke-4. Secara pengalaman pastinya sudah Pro to the Max dong???!!!

Singkat cerita, aku masuk melalui boarding pass. Biasanya, si petugas infoin keretaku di jalur 1. Tapi saat itu, petugasnya hanya diam saja. Mungkin lagi galau atau bisa jadi sakit gigi. Hiks, get well yaa, Kak! Dengan berbekal pengalaman yang sudah-sudah, tanpa babibu, aku langsung naik kereta di jalur satu tentunya. Agak bertanya-tanya ketika pukul 20.46, keretaku tak kunjung berangkat. Masak iya sengaret ini? Aku masih positive thingking karena ini merupakan kereta terakhir. Mungkin penggantian gerbongnya masih belum siap atau apalah. Hingga akhirnya pukul 20.53 kereta yang kunaiki melaju.

Badanku terasa lelah teramat sangat. Pulang kerja, gendong bayi. naik bus selama satu jam lebih dengan sopir bus yang tidak ramah dalam mengendarai, oper naik gojek sebelum akhirnya tiba di stasiun Kertosono. Tanpa sadar, aku tertidur dan terbangun di sebuah stasiun yang aneh namanya. Maklum, aku memang tidak seberapa paham nama-nama daerah. Keretaku berhenti cukup lama. Hening. Aku tengok jam tangan, sudah pukul 22.03. Mestinya sebentar lagi aku sampai Krian. Tapi seingatku, tidak pernah berhenti selama ini untuk menuju Krian.

Inisiatiflah aku bertanya ke penumpang sebelah. "Mas, barusan stasiun mana ya?" Tanyaku. "Stasiun xxxxxxxxxxx, Mbak." Sahut mas-mas itu hingga berhasil membuat jantungku berhenti berdetak sejenak. "Loh Mas, udah lewat stasiun Mojokerto kah?" tanyaku panik. Mas-mas itu pun mengernyitkan dahi, "Kok Mojokerto, Mbak? Ini kan kereta tujuan Blitar."

Sumpah! Aku gak bisa lagi gambarin dengan jelas paniknya aku. Belum pernah sekalipun aku ke daerah ini. Sudah terlalu larut untuk perempuan bawa bayi. Aku langsung tenteng tas, dan gendong anakku yang masih tertidur, kucari petugas kereta. kusampaikan keluh kesah. Jujur, harapanku mereka bisa kasih solusi aku tidur di kereta seenggaknya sampai subuh, karena jadwal kereta selanjutnya sekitar pukul 4, tapi ternyata mereka tidak punya solusi selain menyarankan cari penginapan yang di dekat stasiun berikutnya. 

Alamak pusing sepusing-pusingnya. Aku mau nangis. Masalahnya aku sama bayiiiikkkk dan sama sekali tidak tahu daerah apa ini, bagaimana menuju ke sana, dan sudah malam sekali. Lalu aku tanya, setelah ini stasiun apa saja? nama familiar yang mereka sebutkan adalah Tulungagung dan Blitar. Tetiba aku ingat punya rekan kerja yang rumahnya Tulungagung. Aku telpon dia, ceritakan ini itu, dan dia bilang dia bisa jemput aku di stasiun lalu dibawa ke rumahnya. Kepalaku berasa disiram es. Hatiku lega, dan memutuskan turun di Tulungagung.

Setelah turun di stasiun Tulungagung, aku berniat ngabarin temenku kalau aku sudah menunggu dia datang, tapi ternyata dia minta aku ngegrab saja sampai ke rumahnya, barulah keesokan harinya akan diantar ke stasiun kembali. Syedih! Ngelag! Badanku berasa capeeekkkk sekali. Akhirnya aku inisiatif (banyak sekali inisiatifnya hahahah) untuk bertanya ke petugas stasiun Tulungagung, apa aku boleh nunggu di sini sampai kereta selanjutnya? They said boleh, nunggunya di ruang tunggu, kursi duduk. Huhuhuhu!

"Apa ada ruang laktasi, Mas? Barangkali boleh sy tidur di ruang laktasi, karena sy menyusui si bayi juga." Pintaku memelas. 

Dengan melalui diskusi tim, akhirnya mereka mengizinkan aku tidur di ruang laktasi. MasyaAllah TabarakAllah rasanya aku pingin nangis saat itu juga saking terharunya.

Masalah tidak selesai disitu. Aku gak bisa tidur. Jantungku berdebar. Hatiku marah tapi tidak tahu mau dan harus marah ke siapa dengan kondisi ini. Lalu, Jam 2 pagi, anakku bangun. Puuuupppppppppppppppp!!! Ya Allah Yaa Raab... mana ga bawa pempers. Aku tolah toleh juga ga ada pempers. Dilepas nanti gimana kalau anakku pipis-pipis. Mau teriaaakkk tapi aku do'a aja dan meluk bayiku, bismillah ndak apa-apa ya Nak tunggu sampai langitnya terang. Alhamdulillah setelah pup kok dia langsung tidur lagi. Ada rasa khawatir dia tidur dengan pempers kotor. Tapi ada rasa percaya ke Allah, everything is going to be okay!!

***

Suara kereta datang membukakan mataku. Terdengar pula suara-suara manusia lalu lalang. Aku lihat jam, ternyata sudah subuh. Anakku masih tertidur. Kucoba keluar. Diantara sekian banyak petugas yeng bersimpati, ada satu petugas dengan mata beloloknya menyuruhku keluar dari area situ, karena ruang laktasi dibuat kerja dan keretaku masih lama katanya. FYI, aku dapat kereta pukul 6.30 kalau aku gak salah ingat. Melaassss banget rasanya. Bayiku masih tidur loh, aku sudah punya tiket juga, bisa-bisanya dia menyuruhku pergi dengan wajah yang mengiris hati. please! kasih aku tisu!

Saat kugendong, anakku langsung terbangun. Saat itu kondisi gerimis. Yasudah, Alhamdulillah dipersilahkan disitu, dan sudah subuh. Aku keluar area stasiun, cari pempers di bawah gerimis yang menari-nari. Ini kalau adegan film, cocok banget dikasih backsound Kabhi KUshi Kabhi Gem -_-" Alhamdulillah ada warung madura di dekat stasiun. Terimakasih yaa warung Madura, sungguh ide yang sangat bermanfaat buka warung selama 24 jam :) dengan segala dramanya, akhirnya keretaku tiba! 

Kereta ini balik lagi ke kertosono dan istirahat selama 30 menit. Saat istirahat itu aku datangin petugas di stasiun Kertosono , kuceritakan kisah sembari complain kenapa tiba-tiba kereta yang seharusnya di jalur 1 menuju Krian, diganti tujuan Blitar? Ternyata oh ternyata,,, saat itu kereta dari Malang telat. Sehingga kereta yang ada di jalur 4 yang mestinya tujuan Blitar, dijalankan dulu dan diganti arah menuju Krian. Dengan kesimpulan, kereta panataran biasanya di jalur 1, malam itu ditukar dengan kereta di jalur 4. FYI, kereta di jalur 1 dan 4 adalah jenis kereta yang sama yaitu Panataran, hanya saja beda nomor. Si petugas menyarankan, setiap kali naik kereta dari kertosono HARUS TANYAKAN keretanya di jalur mana. SETIAP KALI!!!! 

Kalau kalian tanya kenapa ga dengerin CORONG INFO, heyyyy kondisi di stasiun Kertosono itu rame sekaliii. Adapun suara keluar dari corong itu, terdengar tidak jelas. Apalagi aku harus gendong gendong bayi, oper-oper tentu saja fokusku berkurang, daaann bagiku agak lucu kalau setiap naik harus nanya jalur padahal jadwal dan jenis kereta yang aku naikin selalu sama. hem tapi yasudahlah.. ini pengalaman berharga buatku dan tidak ingin kuulangi seumur hidupku. -_-

Tuesday, October 7, 2025

Tragedi Konyol Saat Naik Bus Sumber Dini Hari

Hai hai... Mungkin kalau aku tidak mengalami kejadian konyol, aku gak buka blog ini. Hmmm

Jadi, ceritanya aku baru mau coba naik bus dini hari buat balik ke Caruban. Diantarlah sama suami sampe terminal Mojokerto. Suamiku turun duluan ambil si baby. Aku nya beres-beres barang bawaan di mobil. Belum selesai beberes, tetiba bus Sumber datang. Aku yang masih syok jawab iya-iya aja pas suami gupuh-gupuh nanya ,"mau naik bis Sumber ndak?". 

Kalian tahu kan se-nggak woles gimana sopir bus antar kota? Bahkan buat pasang sepatu, aku harus sambil lari-lari. Gak pake lama, aku ambil si bayi dari Papanya dan langsung naik. Setelah dapat tempat duduk, aku mau ambil HP di tas buat chat hati-hati ke suami. Saat itu pula aku sadar bahwa HPku masih di mobil hiks. Ngelag sebentar, aku bingung harus apa. Hingga akhirnya aku putuskan untuk turun meski tidak tahu harus bagaimana lagi karna itu pukul 3.30 dini hari!

Kuinjak tanah dan kulihat sekeliling, busyeeettt gelap gulita! Hanya ada satu cahaya dari dalam warung tutup yang membuka jendelanya. Tanpa berpikir panjang, aku ijin pinjam HPnya buat menghubungi suami karna memang benar-benar gelap dan tidak tahu sampai daerah mana saking ngebutnya. FYI, baru naik bis tapi bisnya ngebuuuutttt syekaliii.

Agak kesel dan worry kok gak diangkat-angkat. Apalagi si bayi lagi rewel. Ternyata suami lagi nyetir dan mencoba mengejar bisnya. Setelah ketemu, suami nemani kita buat nunggu bis lagi. lamaaaa... nggak ada yg lewat. sekalinya ada, bis pariwisata. Lebih dari setengah jam nunggu, akhirnya datang bis umum. Happy! kulambai-lambai tangan, TAPI tidak berhenti. Syok!! Memang tempat kami nunggu itu tidak umum dan terlalu gelap. Finally, aku ngajak suami untuk kembali ke terminal saja.

Sampai di terminal masih banyak orang yang sama-sama nunggu bis berikutnya. Alhamdulillah pukul 04.30an bisnya datang. Mungkin HP ketinggalan tadi biar salim sama suami. Karena saking buru-burunya sampai ga sempet cium tangan suami. -_-" Dan Alhamdulillah kali ini nothing left kecuali rasa ngantuk. Yup! Hampir sepanjang jalan aku tidur. Tau-tau udah mau sampe baru bisa pegang HP dan ngabarin suami. Sampai terminal Caruban pukul 06.14 dan yeay masih sempet beli soto, mandiin bayi, sarapan. Tapi jujurly lupa sholat huhuhuhu.

Begitulah kurang lebihnya cerita konyol ini. Sangat berharga tapi tidak ingin terulang lagi. 

Friday, March 24, 2023

RIP MAMA PAPA

Aku tidak pernah menyangka akan kehilangan orangtua dalam jangka waktu yang cukup dekat. Tidak genap 4 tahun lamanya. Satu persatu pergi meninggalkan luka yang begitu dalam. Tak ada satupun yang akan benar-benar tahu sedalam apa, tapi aku selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja.

Menjelang kepergian Mama Papa, aku sendiripun tidak dalam kondisi yang baik. Aku tidak punya banyak pilihan untuk berbuat yang terbaik. Melainkan sebatas terbaik kemampuanku saja di saat itu. Huuft.. menulis begini saja hatiku rasanya kemeratak. Tapi... Inilah hidup dengan segala skenarionya. Apapun yang terjadi merupakan qadarullah. Terlalu naif jika aku harus merasa menjadi orang yang paling menderita.

Salah satu penyesalanku adalah aku tidak banyak mengabadikan momen bersama kedua orang tua. Belum lagi banyak file-file foto mereka yang hilang bersama rusaknya laptop dan lain sebagainya. Belajar dari pengalaman itu, aku tidak ingin menyia-nyiakannya lagi. Secara tidak sengaja, aku menemukan beberapa foto mereka saat kami pergi berlibur ke pantai Goa Cina dan Watu Leter di Malang.

Aku bersyukur masih sempat membahagiakan mereka. Terlihat dari ekspresi dan bagaimana mereka terutama Mama bercerita ke teman-temannya betapa senangnya mereka berada di sana, melihat ombak yang besar di depan mata dengan hamparan biru langit dan laut yang menyatu. Alfatihah untuk Mama Papa. 






Singkat cerita, kami mampir ke Alun-alun kota Batu. Ya.. lagi-lagi ini pengalaman pertama kali kedua orangtuaku kesana. Maafkan aku jika aku belum sempurna dalam menorehkan senyum di hati Mama Papa semasa hidup.





Meski cuma segelintir dokumentasi, aku sangat bersyukur bisa menemukannya. Mumpung masih bisa diselamatkan. Karena kalau sekedar disimpan di HP atau laptop bakal rawan hilang ataupun rusak seperti di bawah ini.


Pada akhirnya, segala yang kita miliki di dunia ini akan pergi. Maka syukurilah, sayangilah, kasihilah selagi mereka masih ada di sisimu. Semoga Mama Papa tenang di alam sana. Ampunilah dosa-dosa Mama Papa yaa Allah.. Karuniakan mereka tempat yang sejuk, yang damai, yang indah. Aamiin Yaa Rabbal Aalaamin.


Wednesday, December 28, 2022

Kuliner Malam di Mojokerto - PECEL SAMUDRA

Sudah 4 tahun di Mojokerto tapi baru kali ini nyobain pecel Samudera. Disebut pecel Samudera karna lokasinya ada di depan Apotek Samudera Jl. Majapahit Kota Mojokerto. Kuliner malam ini selalu rame. Ada berbagai macam pilihan lauk yang siap memanjakan lidah para penggemar kuliner. 

Menu perdana kami adalah pecel dengan tambahan lauk babat, sate usus, dan sate komo. FYI, di sini juga jual rawon. First impression terima makanannya, "Gila! Barbar sekali porsinya!" Jadi, pastikan perut kalian kosong sebelum ke sini ya! 

Untuk rasa overall oke. Bumbunya juga ga pelit. Cuma aku rada kurang suka sama babatnya karna masih kecium bau sapi nya hihi. But not bad kok. Next time, aku mau cobain lauk lainnya.

Tiba giliran bayarnya agak bikin deg-degan karena beberapa kali berpengalaman dikasih harga yang meroket. Tapi kali ini menurut aku standart. Untuk dua menu yang kami pilih plus segelas teh hangat cukup kami bayar dengan 48.000 rupiah. Genap 50.000 rupiah dengan parkir motornya. 

Gimana? Tertarik untuk nyobain? 

Thursday, November 10, 2022

NGABISIN WEEKEND SERU DI RUMAH

π™·πšŠπš’ πš‘πšŠπš’... πš†πšŽπšŽπš”πšŽπš—πš πšžπšπšŠπš‘ πš™πšŠπšœπšπš’ πš“πšŠπšπš’ πš–πš˜πš–πšŽπš— πš’πšŠπš—πš πšπš’πšπšžπš—πšπšπšž-πšπšžπš—πšπšπšž. π™Έπš'𝚜 𝚊 πšπšŠπš–πš’πš•πš’ πšπš’πš–πšŽπšŽπšŽπšŽ 𝚒𝚎𝚊𝚊𝚒𝚒𝚒𝚒. 

πšƒπšŠπš™πš’, πš πšŽπšŽπš”πšŽπš—πš πš“πšžπšπšŠ πš‹πš’πšœπšŠ πš‹πš’πš”πš’πš— πšπš˜πš–πš™πšŽπš πš–πšŽπš—πšπšŠπš•πš’πš› πšπšŽπš›πšŠπšœ πš‹πšŽπš›πš”πšŠπš•πš’-πš”πšŠπš•πš’ πš•πš’πš™πšŠπš πš‘πš˜πš‘πš˜πš‘πš˜. 

π™°πš”πš‘πš’πš›-πšŠπš”πš‘πš’πš› πš’πš—πš’ πšπšžπš‘ πšœπš’ π™°πš›πšžπš— πš›πšŽπššπšžπšŽπšœπšπšœ πš—πšπšŽπšπš›πš’πš•πš• πšπš’ πšŠπš•πš• 𝚒𝚘𝚞 πšŒπšŠπš— 𝚎𝚊𝚝. π™ΊπšŠπš•πšŠπšž πš‹πšŽπš›πšŠπš—πšπš”πšŠπš πš”πšŽπšœπšŠπš—πšŠ, πš–πš’πš—πš’πš– πš”πš’πšπšŠ πš‘πšŠπš›πšžπšœ πš—πš’πš’πšŠπš™πš’πš— 300πš›πš’πš‹πšž πš‹πšžπšŠπš πš‹πšŽπš›πšπš’πšπšŠ. πšƒπšŽπšπš’πš‹πšŠ πš–πšžπš—πšŒπšžπš•πš•πšŠπš‘ πš”πšŽπš–πšŠπš–πš™πšžπšŠπš— π™ΌπšŠπšπšŽπš–πšŠπšπš’πš”πšŠ πšŽπš–πšŠπš”-πšŽπš–πšŠπš” πšπš’ πš”πšŽπš™πšŠπš•πšŠπš”πšž. 𝚈𝚎𝚜! π™Ίπš’πšπšŠ πš—πšπšŽπšπš›πš’πš•πš• πšπš’ πš›πšžπš–πšŠπš‘! 

π™Ήπšžπš–'𝚊𝚝 πš™πšŠπšπš’ πšŠπš”πšž πš‘πšžπš—πšπš’πš—πš πš”πšŽ πš™πšŠπšœπšŠπš›. π™³πšŠπš™πšŠπšπš•πšŠπš‘ πšœπš˜πšœπš’πšœ, πš‹πšŠπš πšŠπš—πš πš‹πš˜πš–πš‹πšŠπš’, πšŒπš‘πš’πšŒπš”πšŽπš— πš πš’πš—πšπšœ, πšœπšŠπš˜πš›πš’ πš•πšŠπšπšŠ πš‘πš’πšπšŠπš–, πš”πšŽπšŒπšŠπš™, πš–πšŽπš—πšπšŽπšπšŠ, πš•πšŠπšπšŠ. π™ΏπšŠπš™πšŠ π™°πš›πšžπš— πš”πšŽπš‹πšŠπšπš’πšŠπš— πš—πš’πšŠπš›πš’ πšπšŠπšπš’πš—πš π™°πš–πšŽπš›πš’πšŒπšŠπš—πš˜ *πš”πšŽπš” πš”πš˜πš™πš’ πšŠπš“πšŠ*. π™΄πšŽπš‘πš‘ πšœπš’πšŠπš—πš-πšœπš’πšŠπš—πš πšœπš’ πš‹πšŠπš™πšŠπš” πš†π™° πš–πš’πš—πšπšŠ πš–πš’πš—πšžπš–πš—πš’πšŠ πšœπš™πšŽπšŒπš’πšŠπš•. π™·πš’πš•πš’πš’πš’πš‘πš‘πš‘ 𝚌𝚞𝚜𝚜 πš‹πšŽπš•πš’ πšœπš™πš›πš’πšπšŽ πšŠπš“πšŠ πšπšŠπš‘ πš πš”πš πš”πš πš”. 

π™ΌπšŠπš•πšŠπš– πš™πšžπš— πšπš’πš‹πšŠ. π™°πš•πšŠπš πšπšŠπš— πš‹πšŠπš‘πšŠπš— πš”πš’πšπšŠ πš‹πš˜πš’πš˜πš—πš πš”πšŽ πšπšŽπš™πšŠπš— πš›πšžπš–πšŠπš‘. 
π™½πšπšŽπšπš›πš’πš•πš• πš—πš’πšŠ πšπš’πšπšŽπš–πšŠπš—πš’ πšžπšπšŠπš›πšŠ πšπš’πš—πšπš’πš— πšπšŠπš— πš™πšŽπš–πšŠπš—πšπšŠπš—πšπšŠπš— πš”πšŽπš›πš•πšŠπš™ πš”πšŽπš›πš•πš’πš™ πš•πšŠπš–πš™πšž πšπšžπš—πšžπš—πš. πš‚πšŽπš›πšž πš‹πšŠπš—πšπšŽπš!! π™±πšŽπš›πšŠπšœπšŠ πšŸπš’πš‹πšŽπšœ πš—πš’πšŠ πšπšŠπš–πš’πš•πš’ πšπš’πš–πšŽ. ❤

πš‚πš’ πšŠπš—πšŠπš” πš‘πšŠπš™πš™πš’πš’πš’πš’ πš‹πšŠπš—πšπšŽπšπšπš. πš‚πšŽπš–πšŠπš—πšπšŠπš πšœπšŽπš”πšŠπš•πš’ πš–πšŠπšœπšŠπš”-πš–πšŠπšœπšŠπš”πš—πš’πšŠ. π™»πšŠπš‘πšŠπš™ πš™πšžπš•πšŠ πš–πšŠπš”πšŠπš—πš—πš’πšŠ. 
π™΄πš–πšŠπš” π™±πšŠπš™πšŠπš”πš—πš’πšŠ πš“πšžπšπšŠ πšπšŠπš” πš”πšŠπš•πšŠπš‘ πš‘πšŠπš™πš™πš’ πš•πš’πšŠπš πšŠπš—πšŠπš” πš‘πšŠπš™πš™πš’, πš‹πš’πšœπšŠ πš–πšŠπš”πšŠπš— πšŽπš—πšŠπš”, πšπšŠπš— πš‘πšŽπš–πšŠπš 200πš›πš’πš‹πšž πš•πšŠπšπš’ πš‘πšŠπš‘πšŠπš‘πšŠ.
πš‚πšŽπšŽ 𝚒𝚘𝚞 πš—πšŽπš‘πš πš πšŽπšŽπš”πšŽπš—πš 😊 π™²πšŠπš—'𝚝 πš πšŠπš’πš πšπš˜πš› πšŠπš—πš˜πšπš‘πšŽπš› πšπšžπš— πšœπšπš˜πš›πš’ 𝚘𝚏 𝚞𝚜.